Senin, 26 November 2012

TAHAP-TAHAP KEGIATAN KONSELING KELOMPOK



TAHAP-TAHAP KEGIATAN KONSELING KELOMPOK
Bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan pemberian informasi kepada sekelompok siswa yang bertujuan untuk membantu mereka dalam menyusun sebuah rencana dan keputusan yang tepat terhadap sebuah masalah yang dihadapi.
Menurut Marjohan dkk (Prayitno 1995: 40) bahwa tahap-tahap perkembangan kegiatan kelompok dalam layanan bimbingan kelompok terdiri dari :
a.       Tahap I  pembentukan
b.      Tahap II Peralihan
c.       Tahap III Kegiatan
d.      Tahap IV Pengakhiran
Sedangkan menurut Hartinah Sitti (2009: 131-154) bahwa tahap-tahap kegiatan kelompok  terdiri dari beberapa tahap diantaranya adalah sebagai berikut :
A.    Tahap I : tahap pembentukan
Kegiatan awal dari sebuah kelompok dapat dimulai dengan pengumpulan calon anggota kelompok dalam rangkah kegiatan kelompok yang akan dilaksanakan.
Adapun beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Pengenalan dan pengungkapan tujuan
Tahap pengenalan dan pengungkapan tujuan merupakan tahap pengenalan dan pelibatan diri atau tahap memasukkan diri ke dalam kehidupan dalam sebuah kelompok. Pada tahap ini umumnya anggota saling memperkenalkan diri dan mengungkapkan tujuan ataupun harapan yang ingin dicapai baik oleh masing-masing, sebagian, maupun seluruh anggota kelompok.  Adapun peran dari pemimpin kelompok dalam taha ini adalah
v  Menjelaskan tujuan umum yang ingin dicapai melalui kegiatan kelompok tersebut dan menjelaskannya melalui berbagai cara yang akan dilalui dalam mencapai tujuan tersebut
v  Mengemukakan tentang diri sendiri yang kemunkinan perlu untuk terselenggaranya kegiatan kelompok secara baik
v  Menampilkan tingkah laku dan komunikasi yang mengandung unsure-unsur penghormatan kepada orang lain. Misalnya ketulusan hati, kehangatan dan empati
b.      Terbangunnya kebersamaan
Hasil tahap awal suatu kelompok adalah adanya suatu keadaan dimana para angota kelompok belum meraskan adanya keterikatan diantara anggota kelompok. Oleh karena itu pemimpin kelompok harus merangsang dan memantapkan keterlibatan orang-orang baru dalam suasana kelompok yang diingingkan. Dengan demikian lambat laun para  kelompok akan mampu ikut serta secara bertanggung jawab dalam kegitan kelompok
c.       Keaktifan pemimpin kelompok
Peranan pemimpin kelompok dalam pelaksanaan bimbingan kelompok sangat urgen karena dialah yang mengatur dan menjelaskan semua kegiatan yang akan dilakukan misalnya :
v  Menjelaskan tentang tujuan yang akan dicapai kedepannya
v  Menumbuhkan rasa saling mengenal diantara para anggota kelompok
v  Menumbukan sikap saling mempercayi dan menerima
v  Pembahasan tentang tingkah laku dan suasana perasaan dalam kelompok
d.      Beberapa teknik pada tahap awal
Terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan oleh pemimpin kelompok dalam tahap  awal. Adapun teknik-teknik tersebut yang bias digunakan dalam kegiatan ini diantaranya
v  Teknik pertanyaan dan jawaban
Para anggota menulis jwaban atas suatu pertanyaan pada selembar kertas yang disediakan oleh pemimpin kelompok.
v  Teknik perasaan dan tanggapan
Teknik perasaan dan tanggapan dilakukan dengan mempersilahkan atau meminta masing-masing anggota kelompok mengemukakan perasaan dan tanggapannya atas suatu masalah atau suasana yang mereka rasakan pada saat pertemuan itu berlangsung.
v  Teknik permainan kelompok
Ada berbagai bentuk permainan kelompok yang bias digunakan misalnya “ rangkaian nama”, “ kebun binatang” yang bias digunakan. Tujuannya adalah untuk membangun suasana yang hangat dalam hubungan antar-anggota kelompok dan sekaligus suasana kebersamaan.
BENTUK SKENARIO TAHAP PEMBENTUKAN :
Tema    :  
-           Pengenalan
-          Pelibatan diri
-          Pemasukan diri
Tujuan
Kegiatan
1.      Semua anggota memahami pengertian dan kegiatan kelompok dalam bentuk pendidikan apresiasi seni (PAS) dalam bentuk bimbingan dan konseling kelompok
2.      Menumbuhkan suasana kelompok
3.      Menumbuhkan minat anggota kelompok dalam mengikuti kegiatan kelompok dalam bentuk PAS.
4.      Menumbuhkan sikap saling mengenal, percaya, menerima, dan membantu di antara para anggota kelompok.
5.      Menumbuhkan suasana bebas dan terbuka
6.       Memulai pembahasan tentang tingkah laku dan perasaan dalam kelompok itu sendiri
1.      Memberikan penjelasan mengenai pendidikan apresiasi seni serta tujuan dari apresiasi seni itu sendiri dalam lingkup bimbingan dan konseling
2.      Menjelaskan bentuk-bentuk PAS dalam bimbingan dan konseling kelompok
3.      Saling memperkenalkan diri
4.      Pemberian teknik khusus
Misalnya menggunakan teknik jendela jouhri “ jouhari windows” yang mana semua anggota kelompok menuliskan semua sifat-sifat yang ada pada dirinya kemudian teman yang lain menuslikan sifat apa yang ada pada dirinya






B.     Tahap II  : tahap peralihan
Setelah suasana kelompok terbentuk dan dinamis kelompok  sudah tumbuh dalam kegiatan kelompok hendaknya dibawah lebih jauh oleh pemimpin kelompok menuju kepada kegiatan kelompok yang sebenarnya. Oleh karena itu tahap peralihan perlu dilaksanakan. Adapun bentuk-bentuk kegiatan yang ada dalam tahap peralihan diantaranya :
a.       Suasana kegiatan
Sebelum melangkah lebih lanjut ke tahap kegiatan kelompok yang sebenarnya, pemimpin kelompok menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh anggota kelompok. Pada tahap ini pemimpin kelompok menjelaskan peranan anggota kelompok dalam kelomok bebas (jika kelompok tersebut memang kelompok bebas), atau kelompok tugas (jika kelompok tersebut memang kelompok tugas). Kemudian pemimpin kelompok menawarkan apakah para anggota siap memulai kegiatan tersebut
b.      Suasana ketidakseimbangan
Suasana ketidakseimbangan memang tidak bias lepas dari sebuah kelompok dan inilah yang mewarnai tahap peralihan. Hal ini bias muncul karena adanya konflik atau bahkan konfrontasi antara anggota kelompok dan pemimpin ketidaksesuaian yang banyak terjadi dalam keadaan banyak anggota yang merasa tertekan ataupun menyebabkan tingkh laku mereka menjadi tidak seperti biasanya. Keenggangan atau bahkan penolakan muncul atau muncul lagi dalam suasana seperti  itu. Oleh karena itu untuk keluar dari suasana tersebut maka pemimpin kelompok harus bijaksana dan cepat dalam bertindak baik waktu maupun tepat isi perlu diterapkan, pemimpin kelompok perlu mendorong semua anggota yang secara sukarela dan bersedia mengutarakan “membuka” diri mereka berkenaan dengan suasana yang mencekam.
c.       Jembatan antara tahap I dan tahap II
Tahap ini merupakan  jembatan antara tahap I dan Tahap II. Ada kalanya jembatan ditempuh dengan amat mudah dan lancar, artinya para anggota kelompok segera memasuki kegiatan tahap ketiga dengan penuh kemauan dan sukarela. Ada kalanya pula jembatan tersebut ditempuh dengan payah dalam artian para anggota kelompok enggan memasuki tahap kegiatn kelompok.
 


BENTUK SKENARIO TAHAP PERALIHAN
Membangun jembatan antara tahap I dan tahap II
Tujuan
kegiatan
1.      Membuka perasaan/sikap anggota kelompok dari sikap keraguan, sikap enggan dan membangun sikap saling percaya diri diantara mereka
2.      Meningkatkan minat untuk ikut dalam kegiatan kelompok
1.      Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan kedepannya
2.      Mengamati secara keseluruhan anggota kelompok apakah benar-benar siap untuk menjalani kegiatan selanjutnya.




C.    Tahap III kegiatan
Tahap ketiga merupakan inti kegiatan kelompok maka aspek-aspek yang perlu dijadikan pengiring yang masing-masing mempunyai aspek tersendiri yang membutuhkan perhatian yang sangat saksama dari pemimpin kelompok itu sendiri.
Pada tahap ketiga hubungan antar anggota kelompok tumbuh dengan baik. Selain itu pada tahap ini kegiatan kelompok akan ditampilkan secara nyata. Pemimpin kelompok akan mengambil alih dan menjelaskan pada awal dan kedua tentang jenis dan kegiatan kelompok apa yang akan dijalani kelompok pada tahap ini.
Adapun kegiatan yang akan di jalankan dalam kegiatan ini terdiri dari beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut :

Membangun kegiatan dalam kelompok
Tujuan
Kegiatan
1.      Mengungkapkan secara bebas masalah yang dapat dirasakan, dipikirkan, dan dialami oleh anggota kelompok
2.      Membahas masalah dan topic berkenaan dengan tema kita yaitu bentuk kegiatan kelompok dalam bentuk PAS
3.      Ikut sertanya semua kelompok dalam kegiatan ini.
1.      Semua kelompok yang terbentuk diberi kesempatan dalam mengemukakan ide, kreasi dan pandangan mereka dalam kegiatan ini
2.      Menentukan sebuah pokok permasalahan yang akan dibahas
3.      Membuat kegiatan selingan              “ games”
4.      Mengemukakan permasalahan

a.       Mengemukakan masalah
Pada tahap ini semua kelompok diajak untuk mengemukakan permasalahan apa yang dirasa cukup baik dijadikan sebagai topic. Misalnya kurangnya kemampuan peserta didik untuk menjalankan tugasnya sebuah kegiatan seni.
b.      Pemilihan topic
Setelah dilakukan kegiatan dalam hal pengungkapan masalah oleh masing-masing kelompok bias dilanjutkan dengan pemilihan topo permasalahan yang akan dijadikan sebuah topic dalam kegiatan kelompok ini. Pemilihan topic ini akan diputuskan oleh pemimpin kelompok setelah mendengar semua pengungkapan masalah dari masing-masing kelompok itu sendiri. Misalnya dari masalah yang berkaitan dengan kurangnya kemampuan peserta didik dalam menjalankan tugasnya dalam sebuah kegiatan seni
c.       Pembahasan topic
Setelah menentukan topic yang akan dibahas maka kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya adalah membahas topic tersebut yaitu yang berkaitan dengan kurangnya kemampuan peserta didik dalam menjalankan tugasnya dalam sebuah kegiatan seni. Prawitasari E johana : (2011: 39). Bahwa materi yang bias digunakan dalam pagelaran seni bertujuan untuk menggerakkan serta mengapresiasi berbagai karaakter manusia yang baik dan yang tidak baik, belajar mengenal keterampilan hidup dan nilai-nilai dalam kehidupan melalui pengenalan seni dan belajar mengapresiasikan pikiran dan perasaan melalui kreativtas dalam olah praktik bermain peran tentang cerita yang dikembangkan sendiri oleh peserta didik
d.      Games
Setelah membahas topic tentunya peserta didik akan merasa sedikit bosan dengan pembahasan materi yang telah dipaparkan pada sesi sebelumnya. Oleh karena itu, untuk memecah kebosanan mereka perlu diadakan games melalui sosiodrama yang berkaitan dengan pokok pembahasan tadi misalnya salah satu kelompok di tunjuk untuk melakonkan sebuah drama yang mana salah satu diantara anggota kelompok tidak bias melakukan tugasnya sesuai dengan apa yang ada dalam naskah drama tersebut. Akan tetapi di akhirnya semua teman-temannya memberikan jalan keluar yaitu mencoba melakonkan peran lain dan akhirnya bias melakonkan peran tersebut dengan sangat baik
e.       Mengemukakan permasalahan
Setelah melakukan kegiatan diatas maka akan dikemukakan tentang masalah apa yang timbul ketika salah seorang dari anggota kelompok tidak bias melakonkan apa yang diberikan.disinilah semua akan di bahas mengenai apa yang menyebabkan sehingga salah satu dari anggota kelompok tidak bias menjalankan apa yang diperintahkan.


D.    Tahap IV : pengakhiran
Tahap ini biasa disebut juga dengan tahap tendensi /ending dimana pada tahap ini semua kegiatan akan diakhiri namun tidak dalam artian kegiatan akan berakhir begitu saja. Namun masih ada kegiatan selanjutnya yang bias dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Frekuensi pertemuan
Berkenaan dengan kegiatan ini hal yang Paling urgen dilihat adalah berkaitan dengan frekuensi pertemuan yang akan dilakukan selanjutnya. Karena  untuk mendapatkan hasil yang memuaskan tentunya tidaklah bias dilakukan dengan hanya sekali pertemuan akan tetapi hasil yang sempurna akan dicapai jika itu dilakukan jika pertemuan itu dilakukan lebih dari 1 kali.
b.      Pembahasan keberhasilan kelompok
Pada kegiatan ini semua kegiatan kelompok harus dipusatkan pada pembahasan dan penerapan hal-hal yang telah mereka dapatkan dan pelajari mulai dari awal kegiatan sampai dengan akhir kegiatan agar mereka dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari


SUMBER RUJUKAN
Hartinah, sitti. 2009. Konsep Dasar Bimbingan Kelompok. Bandung: PT. Reflika    Aditama
Prawitasari J. E . 2012. Psikologi Terapan. Jakarta: Erlangga 
Marjohan dkk. 1991. Bimbingan dan konseling . Jakarta : Departemen Pendidikan   dan Kebudayaan 

Kamis, 22 November 2012

FOR PALESTINA !!!!!

Bismillah
assalamu alaikum warahmatu llahi wabarakatuhu
para blogger yang dimuliaakan oleh allah swt. pada kesepatan yang berbahagia ini saya akan memosting sebuah surat curahan hatiku kepada masayarakat warga palestina umumnya dan masyarakat gaza khususnya
" assalamu alaikum warahmatu llahi wabarakatuhu"
wahai saudaraku yang berada di palestina.......
tetaplah sabar menghadapi segala cobaan yang kalian dapatkan
engkau merasakan kepedihan yang tiada taranya akibat kekejaman kaum kuffar / israel
kematian, kekerasan, pemboman dimana-mana, tangis yang tiada henti-hentinya terdengar hingga membuat tubuh ini merasa piluh untuk mendengar jeritan tangis saudaraku yang telah memperjuangkan apa yang telah menjadi milik kalian

saudaraku bersabarlah ...................
saudaraku tahuka kalian bahwa apa yang mereka lakukan terhadapmu merupakan sebuah kesalahan besar yang telah mengobrak-abrik kehidupan kalian. mereka tega membunuh, menelanjangi, bahkan memenggal kepala saudaraku yang telah tak punya salah apa-apa. tapi mereka membabi-butah untuk menghancurkan kalian. tapi apakah mereka sudah merasa menag karena telah melakukan itu semua ???? tentu tidak saudaraku, mereka bahkan lebih ketakutan dibanding kalian. bahkan mereka takut dengan para pejuang cilik yang cuma menngunakan batu untuk melwan mereka. ternyata mereka hanyalah pemberontak yang tidak sebanding dengan kalian memperjuangkan sebuah kebenaran.

allahu akbar............ allahu akbar............ allahu akbar

saudaraku bersabarlah
saudaraku tahuka kalian betapa besar ketakutan yang dimiliki oleh tentara israel yang notabene menggunakan senjata yang canggih untuk memusnahkan kalian. tapi ingatlah saudaraku bahwa senjata secanggih apapun tidak akan bisa mengalahkan perlindungan allah swt. ingatlah saudaraku allah selalu menjaga kita
allahu akbar............. allahu akbar............ allahu akbar

salam cintaku untuk kalian
para pejuang gaza
doaku selalu menyertaimu
assalamu alaikum warahmatu llahi wabarakatuhu
SAVE PALESTINA

Rabu, 21 November 2012

BELIEVE IT OR NOT

Di kehidupan ini banyak cara yang di lakukan oleh seseorang untuk mengenali orang lain lebih dalam. Salah satu nya adalah dengan cara melihat pada Bulan lahir nya. Bulan lahir seseorang ternyata akan mengelompokkan siapa dia di mata orang lain, tapi hal ini kemungkinan sangat kecil selain pengaruh dari lingkungan yang sangat besar.

Percaya atau tidak itu terserah anda, artikel ini hanya sekedar motivasi dan Introspeksi buat anda sekalian. Dengan artikel Sifat dan Karakter Orang Menurut Bulan Lahir ini akan membantu anda bagi yang belum tahu siapa sesungguhnya diri nya. Baik langsung saja ke topik pembicaraan, mari kita simak satu-satu point-point di bawah ini.

JANUARI
* Mudah mencintai
* Mudah melupakan saat dikhianati
* Pandai menggoda
* Romantis tetapi kaku
* Mudah cemburu
* Mudah bergaul dan pemalu

FEBRUARI
* Sukar jatuh cinta
* Menghargai pasangan
* Jujur dan transparan
* Nekad
* Sangat romantis
* Modis

MARET
* Mudah menarik simpati lawan jenis
* Tidak mandiri
* Pemalu
* Mudah cemburu
* Manja
* Mudah mencintai
* Penuntut

APRIL
* Sulit jatuh cinta
* Tidak berani terus terang
* Pemalu
* Butuh perhatian
* Pencemburu
* Setia
* Mudah emosi
* Nggak romantis
* Sukar melupakan pasangan walaupun dikhianati

MEI
* Mudah jatuh cinta
* Baik dan jujur
* Romantis
* Suka mengatur
* Suka berkhayal

JUNI
* Tidak bisa menyenangkan pasangan
* Mudah mencintai tetapi terlalu memilih
* Cerewet
* Mudah emosi
* Mudah ngambek
 * Pelindung sejati

JULI
* Pandai menjaga diri
* Suka didampingi
* Sukar dimengerti
* Suka dan senang berterus terang
* Mudah terluka dan lama pulih
* Mudah ngambek
* Setia
* Pendengar yang baik
* Mudah cemburu
* Suka menilai dan menjaga hubungan

AGUSTUS
* Suka memimpin
* Romantis
* Penuh kasih sayang dan penyayang
* Sangat sensitif
* Mudah curhat

SEPTEMBER
* Sopan
* Suka mengkritik
* Sangat sensitif dan emosi
* Pandai memahami
* Kurang menunjukkan perasaannya terhadap pasangan
* Sukar melupakan jika hatinya terluka
* Pandai menyimpan perasaan
* Suka berterus terang

OKTOBER
* Pandai berkomunikasi
* Suka disayang dan menyayangi
* Sopan
* Jujur dan jarang berpura-pura
* Mudah emosi
* Pencemburu
* Romantis
* Memahami pasangan

NOVEMBER
* Cermat dan teliti
* Suka berahasia dengan siapapun
* Kuat
* Pendendam
* Mudah emosi
* Moody

DESEMBER
* Mudah mencintai
* Selalu tergesa-gesa
* Mandiri
* Mencintai kebebasan
* Pandai mempengaruhi

"Believe It Or Not" silakan nilai diri anda sendiri. Artikel ini jangan di jadikan sebagai bahan patokan untuk pribadi anda. Anda yang mengenal siapa diri anda sesungguhmya, bukan kah begitu?!

Somoga artikel di atas dapat bermanfaat untuk anda sekalian. Dan jika ada hal yang salah atau menyinggung pihak-pihak tertentu saya mohon Maaf. Thanks!

PENGUMUMAN!!!!!!!!

Assalammualaikum WR WB

Ada Serangan Yahudi di laptop dan computer kita.

PENGUMUMAN PENTING...!!!

Buka Computer/Laptop anda pada "Local Disc (C)"

Lalu Klik "Program Files"

Kemudian Klik "Microsoft Office"

Lalu Klik "MEDIA" dan Klik "CAGCAT 10"

Terakhir Cari gambar no "J0285926"

Kemudian di Klik

Anda akan menjumpai gambar lambang/bendera ZIONIS Yahudi lengkap (sama dengan warna aslinya), dengan lilin, (sarana ibadah mereka).

DELETE gambar tersebut. (gambarnya seperti gambar ini)

Dan perlu diketahui, gambar tersebut ada di seluruh PC dan laptop.

SEBARKAN Kepada Semua Umat Muslim di Dunia ini.
Semoga bermanfaat Sobat Muslim.

Waalaikumssalam WR WB

Senin, 19 November 2012

prosedur bimbingan kelompok menurut teori psikoanalisis


Bimbingan kelompok merupakan kegiatan pemberian informasi kepada sekelompok siswa yang bercirikan proses antarpribadi yang dinamis, berfokus pada kesadaran pikiran dan tingkahlaku yang melibatkan fungsi-fungsi terapi, menyediakan bantuan konseling secara serentak pada 4 atau lebih  konseli yang secara normal mengelola masalah-masalah penyesuaian dan keprihatinan perkembangan, pemecahan bersama berbagai bidang masalah sosiopsikologis individu dalam kelompok yang bertujuan untuk membantu mereka dalam menyusun sebuah rencana dan keputusan yang tepat terhadap sebuah masalah yang dihadapi oleh siswa itu sendiri.
Dalam hal ini saya akan menjelaskan tentang bagaimana pandangan teori psikoanalisis dalam kaitannya dengan bimbingan kelompok

Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan salah satu teori yang merupakan asal muasal terbentuknya teori-teori lain. Teori ini diciptakan oleh Sigmund freud yang dikenal sebagai “bapak psikologi” selain itu beliau juga adalah seorang ahli neurologi yang berhasil menemukan cara-cara pengobatan yang efektif bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan gejala neurotik dan histeria melalui teknik pengobatan eksperimental yang disebut abreaction, sebuah kombinasi antara teknik hipnotis dengan katarsis,

A.    Paradigma Konseling 
suatu sistem pembagian konseling ke dalam empat rumpun besar berdasarkan rumpun teori yang dijadikan landasan kerja, yaitu
a.       paradigma organik-medikal
Paradigma organik-medikal adalah berlandaskan pada keyakinan bahwa hakekat realitas (ontologi) manusia adalah kebendaan fisik, dan fokus studi untuk mengetahui (epistemologi) perilaku manusia pada faktor-faktor biologis, kimiawi dan berbagai hal fisik lain yang berpengaruh pada tingkahlaku. Paradigma ini menggunakan model psikopatologi dan kesakitan mental dengan ciri menerapkan: pertama, asumsi adanya penyebab organismik; kedua, asumsi khusus organik mengenai metode diagnostik, dan ketiga metode khas medik dalam tritmen; dasar keahlian konselor adalah psikiatris dengan teori dasar “Psychiatric Case Management”; paradigma ini yang juga dikleim sebagai tokoh besar paradigma psikologis, paradigma organik-medik berassosiasi dengan dua tokoh sebelum Freud yaitu Emil Kraepelin
b.      paradigma psikologis
Paradigma psikologis berlandas-kerja teori-teori psikologi, di dalamnya terkandung sejumlah orientasi konseling dan psikoterapi (orientasi pemikiran, perasaan, dan tindakan), meyakini hakekat realitas (ontologi) manusia adalah benda fisik dan terutama nonfisik dengan fokus studi (epistemologi) terutama pada hal-hal nonfisik internal dan eksternal yang mempengaruhi tingkahlaku; sebuah kategori berdasarkan pada karya Cottone
c.       paradigma sistemik relasional
sistemik-relasional menunjuk pada paradigma ketiga konseling dan psikoterapi menurut Cottone, didasari oleh filosofi sistem dunia, atau teori sistem umum, oleh Ludwig von Bertalanffy (konsepsi organismik), dan teori sosiologi makro misalnya teori sistem dalam Talcott Parsons (struktur aksi sosial); meyakini hakekat realitas (ontologi) manusia adalah jaringan interaksi, dan fokus studi memahami manusia (epistemologi) terutama pada hubungan sebagai hal yang esensial bagi tingkahlaku; penganutnya terutama adalah terapis perkawinan dan keluarga, dengan contoh teori Structural Family Therapy, dan Strategic Family Therapy; juga berassosiasi dengan L. Hoffman, H. R. Maturana, G. Bateson dan Paul Watzlawick.
d.      paradigma konsensus-kontekstual
Paradigma konsensus-kontekstual merupakan paradigma keempat menurut Cottone, cukup baru dalam konseling dan psikoterapi yang dilatarbelakangi oleh filosofi kontekstualisme dan dimajukan oleh pergerakan feminisme kritik, meyakini hakekat realitas (ontologi) manusia adalah perubahan dan proses serta fokus studi (epistemologi) adalah proses konsensus manusia selaku proses yang menstruktur-menerus (enstructuring process); teori pendukungnya adalah sosiologi mikro dan feminisme kritik di samping psikologi sosial, diterapkan terutama dalam konseling dan terapi keluarga. Para penganut dan pelaksananya adalah konselor profesional; Contoh teori adalah ‘Cognitive – Consensual Therapy’; berlandaskan pada pemikiran filosof S. C. Pepper, juga berassosiasi dengan upaya J. Colapinto.
B.     Struktur konseling kelompok dalam pandangan psikoanalisis
Struktur kelompok dalam konseling kelompok adalah suatu konsep yang multidimensional dan secara potensial berguna membangkitkan proses  Kelompok enkonter dalam konseling, menunjuk pada aktivitas ‘temu-rasa’ yang terkelola secara kelompok secara khusus menunjuk pada salah satu tahap penting dalam ‘kelompok temu-rasa’, dalam mana semua anggota secara ‘cair’ menceriterakan diri secara bebas, terbuka, lepas dari rasa terancam dan rasa curiga di antara teman kelompok, kelompok enkonter senantiasa berlangsung dalam hubungan antarpribadi banyak orang bukan secara sendiri-sendiri atau berdua-duaan. Kelompok pembuatan keputusan, pada awal-awal perkembangan konseling, menunjuk pada suatu proses mencapai keputusan bersama-sama yang melibatkan dorongan konsensus dan konformitas selaku tambahan dalam proses pengambilan keputusan bersama. Intinya adalah adanya sebuah penekanan dalam hal pengambilan keputusan sebelum individu secara nyata menghadapi masalah aneka aspek kehidupan di kemudian hari.
 ‘Struktur kelompok’ bukanlah konstruk yang unidimensional yang membentang dari struktur ambigu ke struktur tegas melainkan termasuk struktur implisit yang tentu adanya meskipun itu seolah-olah tidak terstruktur. Di dalamnya, pemimpin perlu ambil bagian dalam struktur kelompok, terutama pada tahap awal kelompok, yaitu pemakaian teknik direktif guna menegaskan tujuan, mengorientasikan kelompok menuju ekspektasi, dan mengomunikasikan aturan dan prosedur dasar.
C.    Kerja kelompok
Kerja kelompok adalah strategi pelaksanaan suatu program yang  menekankan pada penyelesaian program yang dibawakan oleh kelompok, dalam mana berlangsung konsultasi dengan pimpinan yang mengarahkan kelompok ke suatu tujuan yang diterima masyarakat aktivitas kreatif dikerahkan untuk menyediakan saluran pantas bagi ekspresi-diri dan peredaan stres emosional anggota. Taraf kesuksesan dan kepuasan anggota adalah sangat bergantung pada kerjasama dan koordinasi yang diciptakan anggota di bawah arahan pimpinan kelompok. Belakangan digunakan pula oleh konselor berbagai pendekatan sebagai tindak-lanjut suatu program penyembuhan kelompok.
Kelompok berorientasi kerja dalam konseling kelompok menunjuk pada satu jenis kelompok yang mengurusi satu masalah spesifik untuk dipecahkan atau satu tugas khusus yang akan dikerjakan. Pemikiran kelompok menunjuk pada pemikiran kelompok, kecenderungan yang ada pada kelompok untuk mengambil keputusan kompromi karena konformitas dan pendalaman pemikiran kritis dalam kelompok atau dengan acuan lain suatu kesepakatan yang dicapai melalui kekuatan persuasif internal kelompok. Pemikiran kelompok demikian merupakan suatu cara berpikir yang tidak dikehendaki dalam konseling kelompok dalam mana individu semestinya bertumbuh dan berfikir menurut kekhasan pribadi masing-masing.
D.    Tolak ukur seorang Konselor
Konselor merupakan orang yang memberikan bantuan terhadap klien atau konseli yang memiliki sebuah masalah. Untuk dikatakan sebagai konselor profesional di bidangnya makanya konselor harus memiliki sejumlah kompetensi dan karakteristik pribadi khusus yang diperoleh melalui pendidikan profesional; dengan kompetensi khususnya membantu orang (disebut konseli atau klien) dalam mencapai perkembangan optimal; termasuk kompetensi melakukan interviu dan diagnosis, dan implementasi strategi pengubahan. Dasar-dasar kompetensi itu diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus dan berkembang dalam pengalaman praktik
 Masing-masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja. Standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Ekspektasi kinerja konselor dalam menyelenggarakan pelayanan ahli bimbingan dan konseling senantiasa digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati keragaman, serta mengutamakan kepentingan konseli, dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan.
Ekspektasi kinerja konselor mencakup 3 hal diantaranya adalah sebagai berikut
a.       setting layanan
Setting layanan yang diampu oleh Konselor sebagai Pendidik yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan, adalah setting pendidikan khususnya pada jalur pendidikan formal, yang juga mewadahi layanan Guru sebagai Pendidik, namun yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan.
b.      wilayah layanan
Pelayanan konselor yang memandrikan khususnya dalam jalur pendidikan formal yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan inilah yang dijadikan fokus. Pembedaan wilayah layanan di antara guru dan konselor dalam jalur pendidikan formal ini, tidak merupakan pemisahan, sebab demi pencapaian misi sekolah dengan sebaik-baiknya, disyaratkan adanya keterhubungan di antara pemangku layanan dalam ketiga wilayah layanan. Di Indonesia, kelompok Konselor dan Pendidik Konselor telah menghimpun diri dalam suatu asosiasi profesi yang mula-mula dinamakan Ikatan Petugas Bimbingan dan Konseling, dan kemudian berubah nama menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN). Ada tiga wilayah layanan konselor, yaitu layanan (a) administrasi dan manajemen, (b) kurikulum dan pembelajaran, dan (c) bimbingan dan konseling. Konteks tugas konselor berada dalam kawasan pelayanan yang bertujuan mengembangkan potensi dan memandirikan konseli dalam pengambilan keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Pelayanan dimaksud adalah pelayanan bimbingan dan konseling. Konselor adalah pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling, terutama dalam jalur pendidikan formal dan nonformal
c.       Konteks tugas
Konteks tugas konselor yang profesional mencakup “wilayah layanan yang bertujuan memandirikan individu yang normal dan sehat dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengambilan keputusan termasuk yang terkait dengan keperluan untuk memilih, meraih serta mempertahankan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum (the common good) melalui pendidikan” Konselor memang diharapkan untuk berperan serta dalam bingkai layanan yang komplementer dengan layanan guru, baik melalui penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan yang dilakukan dalam wilayah layanannya, maupun secara bahu-membahu dengan guru dalam pengelolaan kegiatan ekstra kurikuler dalam setting pendidikan.





DAFTAR RUJUKAN
Hana Panggabean, 2007, http://rumahbelajarpsikologi.com