Rabu, 07 November 2012


BAB 1
PENDAHULUAN
Keberhasilan dalam melaksanakan suatu tugas merupakan dambaan setiap orang. Berhasil berarti terwujudnya harapan. Hal ini juga menyangkut segi efisiensi, rasa percaya diri, ataupun prestise. Lebih-lebih bila keberhasian tersebut terjadi pada tugas atau aktivitas yang berskala besar. Namun perlu disadari bahwa pada dasarnya setiap tugas atau aktivitas selalu berakhir pada dua kemungkinan : berhasil atau gagal.
Belajar merupakan tugas utama siswa, di samping tugas-tugas yang lain. Keberhasilan dalam belajar bukan hanya diharapkan oleh siswa yang bersangkutan, tetapi juga oleh orang tua, guru, dan juga masyarakat. Tentu saja yang diharapkan bukan hanya berhasil, tetapi berhasil secara optimal. Untuk itu diperlukan persyaratan yang memadai, yaitu persyaratan psikologis, biologis, material, dan lingkungan sosial yang kondusif.
Bila keberhasilan merupakan dambaan setiap orang, maka kegagalan juga dapat terjadi pada setiap orang. Beberapa wujud ketidak berhasilan siswa dalam belajar yaitu : memperoleh nilai jelek untuk sebagian atau seluruh mata pelajaran, tidak naik kelas, putus sekolah (dropout), dan tidak lulus ujian akhir.
Kegagalan dalam belajar sebagaimana contoh di atas berarti rugi waktu, tenaga, dan juga biaya. Dan tidak kalah penting adalah dampak kegagalam belajar pada rasa percaya diri. Kerugian tersebut bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan tetapi juga oleh keluarga dan lembaga pendidikan. Oleh karena itu upaya mencegah atau setidak tidaknya meminimalkan, dan juga memecahkan kesulitan belajar melalui diagnosis kesulitan belajar siswa merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan. Oleh karena itu konselor muncul sebagai pahlawan yang bisa mengarahkan serta memecahkan kesulitan belajar siswa melalui bentuk-bentuk layanan yang mengarah  pada pola 17 bahkan pola 17 +.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Diagnosis dan kesulitan belajar
Diagnosis merupakan istilah yang diadopsi dari bidang medis. Menurut Thorndike dan Hagen. Diagnosis dapat diartikan sebagai :
v  Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symtoms);
v  Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;
v  Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal.
Selain itu ada beberapa pendapat yang mengartikan bahwa kesulitan belajar adalah :
v  Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya.
v  Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.
B.     Faktor-faktor yang menyebabkan sehingga siswa / individu mengalami kesulitan belajar
Menurut Warkitri dkk. (1990 : 8.5 – 8.6), individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut.
Ø  Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya.
Ø  Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
Ø  Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
Ø  Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
Ø  Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal.
Ø  Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya.
Ø  Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif.
C.    Factor-faktor kesulitan belajar siswa
Ada beberapa factor yang menyebabkan sehingga seorang anak mengalami kesulitan dalam proses belajarnya. Hal itu dijelaskan oleh Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.
v  Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
Ø  Faktor kejiwaan, antara lain :
1) minat terhadap mata kuliah kurang;
2) motif belajar rendah;
3) rasa percaya diri kurang;
4) disiplin pribadi rendah;
5) sering meremehkan persoalan;
6) sering mengalami konflik psikis;
7) integritas kepribadian lemah.
Ø  Faktor kejasmanian, antara lain :
1) keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
2) adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
3) adanya gangguan pada fungsi indera;
4) kelelahan secara fisik




v  Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar siswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua : faktor instrumental dan faktor lingkungan.
a.       Faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar siswa antara lain :
1) Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;
2) Kurikulum yang terlalu berat bagi siswa;
3) Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;
4) Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
b. Faktor lingkungan. Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :
a.       Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;
b.      Lingkungan sosial sekolah yang tidak kondusif;
c.       Teman-teman bergaul yang tidak baik;
d.      Lokasi sekolah yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan.
D.    Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Menurut Rosss dan Stanley (Abin S.M., 2002 : 309), tahapan-tahapan diagnosis kesulitan belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
A.    Who are the pupils having trouble ? (Siapa siswa yang mengalami gangguan ?)
B.     Where are the errors located ? (Di manakah kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilokalisasikan ?)
C.     Why are the errors occur ? (Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi ?)
D.    What are remedies are suggested? (Penyembuhan apa saja yang disarankan?)
E.     How can errors be prevented ? (Bagaimana kelemahan-kelemahan itu dapat dicegah ?)
Pendapat Roos dan Stanley tersebut dapat dioperasionalisasikan dalam memecahkan masalah atau kesulitan belajar siswa dengan tahapan kegiatan sebagai berikut.
v  Mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan :
-          Menganalisis prestasi belajar
Dari segi prestasi belajar, individu dapat dinyatakan mengalami kesulitan bila: pertama, indeks prestasi (IP) yang bersangkutan lebih rendah dibanding IP rata-rata klasnya; kedua, prestasi yang dicapai sekarang lebih rendah dari sebelumnya; dan ketiga, prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan sebenarnya.

-          Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar.
Analisis perilaku terhadap siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan :
a.       pertama, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku siswa lainnya yang berasal dari tingkat atau kelas yang sama;
b.      kedua, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku yang diharapkan oleh lembaga pendidikan.
-          Menganalisis hubungan sosial
Intensitas interaksi sosial individu dengan kelompoknya dapat diketahui dengan sosiometri. Dengan sosiometri dapat diketahui individu-individu yang terisolasi dari kelompoknya. Gejala tersebut merupakan salah satu indikator kesulitan belajar
v  Melokalisasi letak kesulitan belajar
Setelah siswa yang mengalami kesulitan belajar diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah :
a.       pada mata pelajaran apa yang bersangkutan mengalami kesulitan;
b.      pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kesulitan terjadi;
c.       pada bagian (ruang lingkup) materi yang mana kesulitan terjadi;
d.      pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.
v  Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kesulitan belajar diusahakan untuk dapat diungkap. Tahap ini oleh para ahli dipandang sebagai tahap yang paling sulit, mengingat penyebab kesulitan belajar itu sangat kompleks, sehingga hal tidak dapat dipahami secara sempurna, meskipun oleh seorang ahli sekalipun (Koestoer dan A. Hadisuparto, 1998 : 21).
v  Memperkirakan alternatif pertolongan
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan secara matang pada tahap ini adalah sebagai berikut.
a.       Apakah siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut masih mungkin untuk ditolong ?
b.      Teknik apa yang tepat untuk pertolongan tersebut ?
c.       Kapan dan di mana proses pemberian bantuan tersebut dilaksanakan ?
d.      Siapa saja yang terlibat dalam proses pemberian bantuan tersebut ?
e.       Berapa lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ?
v  Menetapkan kemungkinan teknik mengatasi kesulitan belajar
Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi : pertama, teknik-teknik yang dipilih untuk mengatasi kesulitan belajar dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kesulitan belajar tidak terjadi lagi.
v  Pelaksanaan pemberian pertolongan
Tahap keenam ini merupakan tahap terakhir dari diagnosis kesulitan belajar siswa. Pada tahap apa saja yang telah ditetapkan pada tahap kelima dilaksanakan.

BAB III
METODOLOGI
Perumusan aktivitas lapangan
v  Sasaran                                                      :
a.       SMP Negeri 1 MAKASSAR JL. Baji Areng.
b.      Memperoleh informasi mengenai kesulitan belajar siswa di sekolah tersebut
v  Kegiatan Yang akan di lakukan( di sekolah)        :
ü  Perkenalan
a.       Identitas
b.      Tujuan
v  Teknik atau metode yang akan dilakukan
1.      Wawancara
v  Dengan Guru Bk
1.      Apakah bapak pernah dikunjungi oleh siswa bapak atau bahkan diberitahu oleh seorang guru mata pelajaran yang menemukan salah seorang dari peserta didiknya yang mengalami kesulitan dalam belajar ?
2.      Bentuk-bentuk kesulitan belajar apa saja yang bapak temukan selama menjadi Guru Bk di sekolah ini ?
3.      Secara umum factor-faktor apa saja yang bapak lihat sehingga anak tersebut  sulit dalam belajar ?
4.      Tindakan apa yang akan bapak lakukan untuk menyelesaikan permasalahan siswa tersebut ?
5.      Apakah ada perhatian khusus yang yang bapak berikan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar ?
6.      Apakah bapak melakukan kerja sama dengan guru mata pelajaran untuk menyelesaikan permasalahan siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar ?



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      Dari hasil wawancara kami dengan Guru BK SMP Negeri 1 Makassar bahwa memang beliau sering sering mendapatkan anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Kesulitan yang beliau temukan ada berbagai macam. Mulai dari ketidak seriusan peserta didik untuk mengikuti mata pelajaran bahkan kebosangan peserta didik terhadap guru mata pelajaran yang membawakan mata pelajaran yang kurang professional dalam membawakan mata pelajaran tersebut
2.      Kesulitan-kesulitan belajar yang beliau temukan diantaranya :
a.       Tidak betah dalam kelas
Hal ini bisa dikibatkan dari beberapa factor diantaranya suasana kelas yang kurang nyaman bahkan ada perasaan takut terhadap teman sekelas di mana ia berada sehingga menyebabkan anak tersebut kurang konsentrasi dalam belajar 
b.      Tidak senangnya siswa terhadap mata pelajaran tersebut
Seorang anak mempunyai minat tertentu dalam mata pelajaran selain itu ada anak yang kurang berminat dalam mata pelajaran tersebut olehnya itu guru mata pelajaran tersebut harus pintar-pintar dalam melihat keadaan anak yang kurang senang dengan mata pelajaran yang dibawakan  
c.       Guru yang membawakan metode mata pelajaran yang kurang efektif
Salah satu indikasi yang menyebabkan sehingga anak biasanya sulit dalam menerima mata pelajaran adalah dari pengaruh seorang guru yang membwakan mata pelajarn yang kurang efektif dalam membawakan mata pelajaran. Misalnya seorang guru mata pelajaran yang hanya terfokus pada metode ceramah. Hal inilah yang membuat seorang anak merasa kurang pantas mengikuti mata pelajaran tersebut karena hanya berfokus pada 1 macam metode mengajar
3.       Adapun tindakan-tindakan yang ditempuh oleh guru BK SMP Negeri 1 Makassar dalam menangai masalah kesulitan belajar siswa adalah :
a.       Bimbingan kelompok
Layangan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber  (terutama dari Guru Pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar,anggota keluarga,dan masyarakat.Bahan yang dimaksudkan itu juga dapat dipergunakan sebagai acuan untuk mengambil keputusan
b.      Konseling kelompok
Dalam pemberian konseling kelompok guru BK memberikan pemahaman kepada peserta didik yang mengalami sebuah masalah yang berkaitan dengan masalah kesulitan belajar selain itu guru BK memberikan beberapa cara belajar yang efektif hal ini perlu dilakukan agar peserta didik mengetahui dan memahami bagaimana cara belajar yang efektif.
4.      Selain dari tidakan-tindakan khusus yang diambil oleh Guru BK untuk menyelesaikan permasalahan siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar ada juga perhatian khusus yang diberikan oleh Guru BK diantaranya adalah  :
a.       Pemantauan
Hal ini dilakukan setelah guru BK melakukan bimbngan kelompok dan konseling kelompok. Ini merupakan evaluasi dari kedua layanan tersebut apakah brhasil atau tidak
b.      melibatkan orang tua
Salah satu orang yang paling terdekat dengan anak adalah orang tua dari anak itu sendiri. Oleh karena itu orang tua perlu dilibatkan secara langsung untuk menyelesaikan permasalahan anak tersebut terutama dalam masalah akademik peserta didik tersebut.
5.      Selain guru BK ternyata guru juga mempunyai peran aktif dalam menyelesaikan permasalahan peserta didik inilah yang di sebut dengan referral (Alih tangan kasus). Hal ini dilakukan apabila Guru BK tidak bisa menyelesaikan permasalahn belajar yang dialami oleh siswa.



BAB V
PENUTUP
1.      KESIMPULAN 
Derdasarkan hasil wawncara  yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
a.       Terdapat banyak kesulitan belajar yang dialami oleh siswa SMP Negeri 1 Makassar yang diakibatkan dari banyak factor yang telah dijelaskan
b.      Kerja sama antara Guru BK dengan guru mata pelajaran sudah ada tinggal lebih di intensifkan lebih mendalam lagi

2.      SARAN
·         Sekolah :
a.       Kurangnya tenaga pengajar khusus guru BK menjadi salah satu kendala dalam proses diagnosis kesulitan belajar
·         Jurusan :
a.       Memperdalam mata kuliah yang berkaitan dengan pelaksanaan program BK di sekolah nantinya
b.      Memperbanyak praktik
·         Mahasiswa :
a.       Belajar dan belajar
b.      Berpikir kreatif

tahapan pembentukan konseling kelompok


Tugas individu
MK            : BK Kelompok
Nama         : Adimuliadi
NIM          :104 404 067
Jurusan      :psikologi pendidikan dan bimbingan \
Kelas         : B

TAHAP-TAHAP KEGIATAN KONSELING KELOMPOK
Bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan pemberian informasi kepada sekelompok siswa yang bertujuan untuk membantu mereka dalam menyusun sebuah rencana dan keputusan yang tepat terhadap sebuah masalah yang dihadapi.
Menurut Marjohan dkk (Prayitno 1995: 40) bahwa tahap-tahap perkembangan kegiatan kelompok dalam layanan bimbingan kelompok terdiri dari :
a.       Tahap I  pembentukan
b.      Tahap II Peralihan
c.       Tahap III Kegiatan
d.      Tahap IV Pengakhiran
Sedangkan menurut Hartinah Sitti (2009: 131-154) bahwa tahap-tahap kegiatan kelompok  terdiri dari beberapa tahap diantaranya adalah sebagai berikut :
A.    Tahap I : tahap pembentukan
Kegiatan awal dari sebuah kelompok dapat dimulai dengan pengumpulan calon anggota kelompok dalam rangkah kegiatan kelompok yang akan dilaksanakan.
Adapun beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Pengenalan dan pengungkapan tujuan
Tahap pengenalan dan pengungkapan tujuan merupakan tahap pengenalan dan pelibatan diri atau tahap memasukkan diri ke dalam kehidupan dalam sebuah kelompok. Pada tahap ini umumnya anggota saling memperkenalkan diri dan mengungkapkan tujuan ataupun harapan yang ingin dicapai baik oleh masing-masing, sebagian, maupun seluruh anggota kelompok.  Adapun peran dari pemimpin kelompok dalam taha ini adalah
v  Menjelaskan tujuan umum yang ingin dicapai melalui kegiatan kelompok tersebut dan menjelaskannya melalui berbagai cara yang akan dilalui dalam mencapai tujuan tersebut
v  Mengemukakan tentang diri sendiri yang kemunkinan perlu untuk terselenggaranya kegiatan kelompok secara baik
v  Menampilkan tingkah laku dan komunikasi yang mengandung unsure-unsur penghormatan kepada orang lain. Misalnya ketulusan hati, kehangatan dan empati
b.      Terbangunnya kebersamaan
Hasil tahap awal suatu kelompok adalah adanya suatu keadaan dimana para angota kelompok belum meraskan adanya keterikatan diantara anggota kelompok. Oleh karena itu pemimpin kelompok harus merangsang dan memantapkan keterlibatan orang-orang baru dalam suasana kelompok yang diingingkan. Dengan demikian lambat laun para  kelompok akan mampu ikut serta secara bertanggung jawab dalam kegitan kelompok
c.       Keaktifan pemimpin kelompok
Peranan pemimpin kelompok dalam pelaksanaan bimbingan kelompok sangat urgen karena dialah yang mengatur dan menjelaskan semua kegiatan yang akan dilakukan misalnya :
v  Menjelaskan tentang tujuan yang akan dicapai kedepannya
v  Menumbuhkan rasa saling mengenal diantara para anggota kelompok
v  Menumbukan sikap saling mempercayi dan menerima
v  Pembahasan tentang tingkah laku dan suasana perasaan dalam kelompok
d.      Beberapa teknik pada tahap awal
Terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan oleh pemimpin kelompok dalam tahap  awal. Adapun teknik-teknik tersebut yang bias digunakan dalam kegiatan ini diantaranya
v  Teknik pertanyaan dan jawaban
Para anggota menulis jwaban atas suatu pertanyaan pada selembar kertas yang disediakan oleh pemimpin kelompok.
v  Teknik perasaan dan tanggapan
Teknik perasaan dan tanggapan dilakukan dengan mempersilahkan atau meminta masing-masing anggota kelompok mengemukakan perasaan dan tanggapannya atas suatu masalah atau suasana yang mereka rasakan pada saat pertemuan itu berlangsung.
v  Teknik permainan kelompok
Ada berbagai bentuk permainan kelompok yang bias digunakan misalnya “ rangkaian nama”, “ kebun binatang” yang bias digunakan. Tujuannya adalah untuk membangun suasana yang hangat dalam hubungan antar-anggota kelompok dan sekaligus suasana kebersamaan.
BENTUK SKENARIO TAHAP PEMBENTUKAN :
Tema    :  
-           Pengenalan
-          Pelibatan diri
-          Pemasukan diri
Tujuan
Kegiatan
1.      Semua anggota memahami pengertian dan kegiatan kelompok dalam bentuk pendidikan apresiasi seni (PAS) dalam bentuk bimbingan dan konseling kelompok
2.      Menumbuhkan suasana kelompok
3.      Menumbuhkan minat anggota kelompok dalam mengikuti kegiatan kelompok dalam bentuk PAS.
4.      Menumbuhkan sikap saling mengenal, percaya, menerima, dan membantu di antara para anggota kelompok.
5.      Menumbuhkan suasana bebas dan terbuka
6.       Memulai pembahasan tentang tingkah laku dan perasaan dalam kelompok itu sendiri
1.      Memberikan penjelasan mengenai pendidikan apresiasi seni serta tujuan dari apresiasi seni itu sendiri dalam lingkup bimbingan dan konseling
2.      Menjelaskan bentuk-bentuk PAS dalam bimbingan dan konseling kelompok
3.      Saling memperkenalkan diri
4.      Pemberian teknik khusus
Misalnya menggunakan teknik jendela jouhri “ jouhari windows” yang mana semua anggota kelompok menuliskan semua sifat-sifat yang ada pada dirinya kemudian teman yang lain menuslikan sifat apa yang ada pada dirinya






B.     Tahap II  : tahap peralihan
Setelah suasana kelompok terbentuk dan dinamis kelompok  sudah tumbuh dalam kegiatan kelompok hendaknya dibawah lebih jauh oleh pemimpin kelompok menuju kepada kegiatan kelompok yang sebenarnya. Oleh karena itu tahap peralihan perlu dilaksanakan. Adapun bentuk-bentuk kegiatan yang ada dalam tahap peralihan diantaranya :
a.       Suasana kegiatan
Sebelum melangkah lebih lanjut ke tahap kegiatan kelompok yang sebenarnya, pemimpin kelompok menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh anggota kelompok. Pada tahap ini pemimpin kelompok menjelaskan peranan anggota kelompok dalam kelomok bebas (jika kelompok tersebut memang kelompok bebas), atau kelompok tugas (jika kelompok tersebut memang kelompok tugas). Kemudian pemimpin kelompok menawarkan apakah para anggota siap memulai kegiatan tersebut
b.      Suasana ketidakseimbangan
Suasana ketidakseimbangan memang tidak bias lepas dari sebuah kelompok dan inilah yang mewarnai tahap peralihan. Hal ini bias muncul karena adanya konflik atau bahkan konfrontasi antara anggota kelompok dan pemimpin ketidaksesuaian yang banyak terjadi dalam keadaan banyak anggota yang merasa tertekan ataupun menyebabkan tingkh laku mereka menjadi tidak seperti biasanya. Keenggangan atau bahkan penolakan muncul atau muncul lagi dalam suasana seperti  itu. Oleh karena itu untuk keluar dari suasana tersebut maka pemimpin kelompok harus bijaksana dan cepat dalam bertindak baik waktu maupun tepat isi perlu diterapkan, pemimpin kelompok perlu mendorong semua anggota yang secara sukarela dan bersedia mengutarakan “membuka” diri mereka berkenaan dengan suasana yang mencekam.
c.       Jembatan antara tahap I dan tahap II
Tahap ini merupakan  jembatan antara tahap I dan Tahap II. Ada kalanya jembatan ditempuh dengan amat mudah dan lancar, artinya para anggota kelompok segera memasuki kegiatan tahap ketiga dengan penuh kemauan dan sukarela. Ada kalanya pula jembatan tersebut ditempuh dengan payah dalam artian para anggota kelompok enggan memasuki tahap kegiatn kelompok.
 


BENTUK SKENARIO TAHAP PERALIHAN
Membangun jembatan antara tahap I dan tahap II
Tujuan
kegiatan
1.      Membuka perasaan/sikap anggota kelompok dari sikap keraguan, sikap enggan dan membangun sikap saling percaya diri diantara mereka
2.      Meningkatkan minat untuk ikut dalam kegiatan kelompok
1.      Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan kedepannya
2.      Mengamati secara keseluruhan anggota kelompok apakah benar-benar siap untuk menjalani kegiatan selanjutnya.




C.    Tahap III kegiatan
Tahap ketiga merupakan inti kegiatan kelompok maka aspek-aspek yang perlu dijadikan pengiring yang masing-masing mempunyai aspek tersendiri yang membutuhkan perhatian yang sangat saksama dari pemimpin kelompok itu sendiri.
Pada tahap ketiga hubungan antar anggota kelompok tumbuh dengan baik. Selain itu pada tahap ini kegiatan kelompok akan ditampilkan secara nyata. Pemimpin kelompok akan mengambil alih dan menjelaskan pada awal dan kedua tentang jenis dan kegiatan kelompok apa yang akan dijalani kelompok pada tahap ini.
Adapun kegiatan yang akan di jalankan dalam kegiatan ini terdiri dari beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut :

Membangun kegiatan dalam kelompok
Tujuan
Kegiatan
1.      Mengungkapkan secara bebas masalah yang dapat dirasakan, dipikirkan, dan dialami oleh anggota kelompok
2.      Membahas masalah dan topic berkenaan dengan tema kita yaitu bentuk kegiatan kelompok dalam bentuk PAS
3.      Ikut sertanya semua kelompok dalam kegiatan ini.
1.      Semua kelompok yang terbentuk diberi kesempatan dalam mengemukakan ide, kreasi dan pandangan mereka dalam kegiatan ini
2.      Menentukan sebuah pokok permasalahan yang akan dibahas
3.      Membuat kegiatan selingan              “ games”
4.      Mengemukakan permasalahan

a.       Mengemukakan masalah
Pada tahap ini semua kelompok diajak untuk mengemukakan permasalahan apa yang dirasa cukup baik dijadikan sebagai topic. Misalnya kurangnya kemampuan peserta didik untuk menjalankan tugasnya sebuah kegiatan seni.
b.      Pemilihan topic
Setelah dilakukan kegiatan dalam hal pengungkapan masalah oleh masing-masing kelompok bias dilanjutkan dengan pemilihan topo permasalahan yang akan dijadikan sebuah topic dalam kegiatan kelompok ini. Pemilihan topic ini akan diputuskan oleh pemimpin kelompok setelah mendengar semua pengungkapan masalah dari masing-masing kelompok itu sendiri. Misalnya dari masalah yang berkaitan dengan kurangnya kemampuan peserta didik dalam menjalankan tugasnya dalam sebuah kegiatan seni
c.       Pembahasan topic
Setelah menentukan topic yang akan dibahas maka kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya adalah membahas topic tersebut yaitu yang berkaitan dengan kurangnya kemampuan peserta didik dalam menjalankan tugasnya dalam sebuah kegiatan seni. Prawitasari E johana : (2011: 39). Bahwa materi yang bias digunakan dalam pagelaran seni bertujuan untuk menggerakkan serta mengapresiasi berbagai karaakter manusia yang baik dan yang tidak baik, belajar mengenal keterampilan hidup dan nilai-nilai dalam kehidupan melalui pengenalan seni dan belajar mengapresiasikan pikiran dan perasaan melalui kreativtas dalam olah praktik bermain peran tentang cerita yang dikembangkan sendiri oleh peserta didik
d.      Games
Setelah membahas topic tentunya peserta didik akan merasa sedikit bosan dengan pembahasan materi yang telah dipaparkan pada sesi sebelumnya. Oleh karena itu, untuk memecah kebosanan mereka perlu diadakan games melalui sosiodrama yang berkaitan dengan pokok pembahasan tadi misalnya salah satu kelompok di tunjuk untuk melakonkan sebuah drama yang mana salah satu diantara anggota kelompok tidak bias melakukan tugasnya sesuai dengan apa yang ada dalam naskah drama tersebut. Akan tetapi di akhirnya semua teman-temannya memberikan jalan keluar yaitu mencoba melakonkan peran lain dan akhirnya bias melakonkan peran tersebut dengan sangat baik
e.       Mengemukakan permasalahan
Setelah melakukan kegiatan diatas maka akan dikemukakan tentang masalah apa yang timbul ketika salah seorang dari anggota kelompok tidak bias melakonkan apa yang diberikan.disinilah semua akan di bahas mengenai apa yang menyebabkan sehingga salah satu dari anggota kelompok tidak bias menjalankan apa yang diperintahkan.


D.    Tahap IV : pengakhiran
Tahap ini biasa disebut juga dengan tahap tendensi /ending dimana pada tahap ini semua kegiatan akan diakhiri namun tidak dalam artian kegiatan akan berakhir begitu saja. Namun masih ada kegiatan selanjutnya yang bias dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Frekuensi pertemuan
Berkenaan dengan kegiatan ini hal yang Paling urgen dilihat adalah berkaitan dengan frekuensi pertemuan yang akan dilakukan selanjutnya. Karena  untuk mendapatkan hasil yang memuaskan tentunya tidaklah bias dilakukan dengan hanya sekali pertemuan akan tetapi hasil yang sempurna akan dicapai jika itu dilakukan jika pertemuan itu dilakukan lebih dari 1 kali.
b.      Pembahasan keberhasilan kelompok
Pada kegiatan ini semua kegiatan kelompok harus dipusatkan pada pembahasan dan penerapan hal-hal yang telah mereka dapatkan dan pelajari mulai dari awal kegiatan sampai dengan akhir kegiatan agar mereka dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari


SUMBER RUJUKAN
Hartinah, sitti. 2009. Konsep Dasar Bimbingan Kelompok. Bandung: PT. Reflika    Aditama
Prawitasari J. E . 2012. Psikologi Terapan. Jakarta: Erlangga 
Marjohan dkk. 1991. Bimbingan dan konseling . Jakarta : Departemen Pendidikan   dan Kebudayaan