Senin, 20 Februari 2012

wadah telur untuk meredam suara


TRIBUN-TIMUR.COM - Memanfaatkan barang bekas tak melulu diterapkan pada hunian semata. Di ruangan kantor yang terkesan formal pun barang bekas dapat tampil menarik sekaligus multifungsi.
Kantor PT Ki Kunci Komunikasi atau akrab dikenal Kicom di bilangan Kemang Raya, Jakarta Selatan, ini misalnya. Di ruangan seluas 82 meter persegi ini, Kicom membutuhkan beberapa ruang untuk kerja karyawan dan ruang rapat atau pertemuan sehingga mencoba menerapkan barang bekas dalam desain barunya.
Rubi Roesli, arsitek yang menangani desain gedung kantor ini, menyekat bangunan menjadi beberapa bagian ruang. Ruangan yang menarik perhatian salah satunya adalah ruang pertemuan di tengah-tengah kantor. Rubi membuatnya menjadi ruang berbentuk kotak dibatasi sekat yang sekaligus berfungsi sebagai peredam suara
 Kalau diamati dengan seksama, pada salah satu dindingnya dibuat sebagai peredam suara tersusun dari wadah-wadah telur. Wadah ini dibeli dari para penjual telur, yang kemudian disusun berbentuk kotak memenuhi dinding.
Namun, peredam suara dari wadah telur ini sengaja dibuat tidak memenuhi seluruh ruangan pertemuan. Pada dinding sekat lainnya, karena ruangan berfungsi sebagai ruang rapat, dibutuhkan media untuk memenuhi fungsi tersebut. Maka, pada dinding lainnya, dipilihlah kaca.
Namun, meski bukan barang bekas, kaca ini tetap memiliki peran ganda. Kantor berkonsep paperless ini menggunakan kaca sebagai media penyampaian tulisan.
Ruang tersebut, seperti terlihat pada gambar, memang lebih privasi, yang biasanya digunakan beraktivitas 4-5 orang. Selain meja kursi, diletakkan pula beberapa bean bag di dalamnya demi memberi kesan santai.(*/tribun-timur.com)

Editor : Adimuliadi
Sumber : Kompas.com

Indikasi penggunaan internet


Kecanduan internet mempunyai gejala serupa dengan kecanduan obat-obatan. Hal itu secara khusus telah diteliti di negara-negara di Asia seperti China dan Korea Selatan.

Seperti diwartakan laman Medindia, Internet tak diragukan lagi menjadi sebuah bagian penting dari hidup kita. Dengan informasi yang tersedia langsung, internet membantu kita bisa tetap mengimbangi  dunia yang bergerak cepat ini.

Situs jejaring sosial telah menambahkan dimensi kepada hidup dan orang tiba-tiba mudah menemukan banyak teman.

Dengan internet sebagai teman terdekat setiap saat, hal itu kecanduan internet adalah hal yang bukan mustahil.

Beberapa ahli kejiwaan  menyebut keadaan itu sebagai Internet Addiction Disorder or Problematic Internet Use (Gangguan kecanduan internet atau penggunaan internet yang problematik).

Para ahli membandingkan kecanduan internet dengan substansi lain seperti tembakau,alkohol dan obat-obatan.

Mereka juga menyarankan bahwa hal itu harus disertakan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, (DSM-V) sebagai gangguan kejiwaan.

Apa itu gangguan kecanduan internet? Kondisi itu pertama kali ditemukan oleh seorang ahli jiwa bernama Ivan Goldberg. Seseorang yang menderita kondisi ini akan menunjukkan gejala ini :
  1. Sering lupa waktu atau mengabaikan hal-hal yang mendasar saat mengakses internet terlalu lama.
  2. Gejala menarik diri seperti merasa marah, tegang, atau depresi ketika internet tidak bisa diakses.
  3. Munculnya sebuah kebutuhan konstan untuk meningkatkan waktu yang dihabiskan.
  4. Kebutuhan akan peralatan komputer yang lebih baik dan aplikasi yang lebih banyak untuk dimiliki memiliki derajat kepuasan yang sama.
  5. Sering berkomentar, berbohong, rendahnya prestasi, menutup diri secara sosial, dan kelelahan. Ini merupakan dampak negatif dari penggunaan Internet yang berkepanjangan.
Gejala ini sama seperti gejala yang ada pada kecanduan obat.

Kecanduan internet ada tiga jenis :
  • Bermain game yang berlebihan
  • Kegemaran seksual
  • Email/ pesan teks
Kecanduan internet secara khusus dianggap sebagai masalah di negara -negara Asia seperti Korea Selatan dan China.

Di Korea Selatan sudah ada 10 peristiwa kematian di internet kafe terkait sakit jantung dan masalah lainnya, begitu juga dengan pembunuhan terkait game.

Sebuah laporan dari China mengungkap bahwa setidaknya satu dari enam orang pengguna internet di China kecanduan terhadap internet sampai batas tertentu.

Kecanduan internet dapat secara khusus menjadi masalah bagi kaum remaja dan anak muda, yang kurang memiliki peraturan iri dan lebih rentan pengaruh media.

Kecanduan internet masih jadi perdebatan untuk masuk dalam gangguan kejiawaan atau tidak. Para pasien yang mengalami kecanduan internet juga sering mengalami kondisi kejiwaan lain seperti kurang perhatian gangguan hiperaktif, depresi, kecemasan, rendah kepercayaan diri, impulsif, tak tahu malu, dan cenderung mau bunuh diri.

Selain itu, kecanduan terhadap internet bisa merupakan menjadi bagian dari kondisi-kondisi tersebut dan bukanlah entitas yang terpisahkan.

Para ahli kejiwaan harus waspada selama menangani pasien muda dengan kondisi, seperti depresi dan harus memahami mengenai kecanduan internet.

Data yang dikumpulkan oleh penelitian lain menunjukkan variasi yang besar dalam konteks dari tipe orang pada risiko mengalami  kecanduan internet. 
Sebagai contoh, kebanyakan penelitian menemukan kecanduan internet lebih umum terjadi pada laki-laki, tetapi beberapa menemukan jumlah perempuan lebih besar atau tak ada perbedaan gender. Penelitian lanjutan dibutuhkan untuk hal ini. (*/tribun-timur.com)

Editor :Adimuliadi
Sumber : Kompas.com

Selasa, 17 Januari 2012

macam-macam istilah keperibadian


TEORI KEPRIBADIAN


A.     Characterology
Characterology (dari "karakter" dan Yunani-λογία,-logia) adalah metode membaca karakter yang berusaha untuk menggabungkan fisiognomi direvisi, phrenology direkonstruksi dan pathognomy diperkuat, dengan etnologi, sosiologi dan antropologi. Dikembangkan oleh L. Hamilton McCormick pada tahun 1920, characterology adalah sebuah upaya untuk menghasilkan sistem, ilmiah objektif untuk menilai karakter seseorang.
Characterology berusaha untuk mengatasi kekurangan dalam sistem phrenological Dr Francis Joseph Gall dan Johann Spurzheim. McCormick mencoba untuk menjauhkan diri dari sistem-sistem sebelumnya, dan menulis secara luas tentang bagaimana ide-ide membaik atas mereka.
McCormick menyarankan kemungkinan aplikasi untuk characterology, misalnya, saran untuk orang tua dan pendidik, bimbingan dalam promosi perwira militer, mengevaluasi pola berpikir (yaitu, alasan berorientasi atau memori-oriented), menilai rekan bisnis dan pesaing, konseling karir, dan memilih mitra perkawinan. Dan dapat disimpulkan bahwa characterology adalah studi tentang karakter termasuk pengembangan dan perbedaan dalam individu-individu yang berbeda.
B.     Science Of Character
Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu. Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan.
C.     Tipologi
Tipologi adalah kajian tentang tipe atau jenis. Secara lebih spesifik, kata ini dapat merujuk pada:
D.    The Psychology of Personality (Psikologi Kepribadian) 
                      Kepribadian menurut Psikologi 
       Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan. Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah khas dalam batasan kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu tidak ada dua orang yang berperilaku sama.
Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.
Dari sebagian besar teori kepribadian diatas, dapat kita ambil kesamaan sbb(E. Koswara):
1. sebagian besar batasan melukiskan kerpibadian sebagai suatu struktur atau organisasi hipotesis, dan tingkah laku dilihat sebagai sesuatu yang diorganisasi dan diintegrasikan oleh kepribadian. Atau dengan kata lain kepribadian dipandang sebagai “organisasi” yang menjadi penentu atau pengarah tingkah laku kita.
2. sebagian besar batasan menekankan perlunya memahami arti perbedaan-perbedaan individual. Dengan istilah “kepribadian”, keunikan dari setiap individu ternyatakan. Dan melalui study tentang kepribadian, sifat-sifat atau kumpulan sifat individu yang membedakannya dengan individu lain diharapkan dapat menjadi jelas atau dapat dipahami. Para teoris kepribadian memandang kepribadian sebagai sesuatu yang unik dan atau khas pada diri setiap orang.
3. sebagian besar batasan menekankan pentingnya melihat kepribadian dari sudut “sejarah hidup”, perkembangan, dan perspektif. Kepribadian, menurut teoris kepribadian, merepresentasikan proses keterlibatan subyek atau individu atas pengaruh-pengaruh internal dan eksternal yang mencakup factor-faktor genetic atau biologis, pengalaman-pengalaman social, dan perubahan lingkungan. Atau dengan kata lain, corak dan keunikan kepribadian individu itu dipengaruhi oleh factor-faktor bawaan dan lingkungan.
E. The Psychology of character (Psikologi Karakter)
1. Unsur dalam Pembentukan Karakter
Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran karena pikiran, yang di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya, merupakan pelopor segalanya. Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikirnya yang bisa mempengaruhi perilakunya.
Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam. Hasilnya, perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkan perhatian serius.
Proses Pembentukan Karakter
Sebelum penulis melanjutkan pembahasan, mari kita kaji ilustrasi berikut ini.. Di dalam sebuah ruangan, terdapat seorang bayi, dan dua orang dewasa. Mereka duduk dalam posisi melingkar. Kemudian masuk satu orang lain yang membawa kotak besar berwarna putih ke arah mereka. Setelah meletakkan kotak tersebut di tengah-tengah mereka, orang tersebut langsung membuka tutupnya agar keluar isinya. Apa yang terjadi...? ternyata setelah dibuka, terlihat ada tiga ular kobra berwarna hitam dan besar yang keluar dari kotak tersebut. Langsung saja, salah seorang dari mereka lari ketakutan, sedangkan yang lainnya justru berani mendekat untuk memegang ular agar tidak membahayakan, dan, tentu saja, si bayi yang ada di dekatnya tetap tidak memperlihatkan respon apa-apa terhadap ular.
F.      Theory Of Personality
KEPRIBADIAN menurut Allport adalah:
…sebuah organisasi dinamis di dalam sistem psikis dan fisik individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.
Sedangkan menurut Pervin dan John:
kepribadian mewakili karakteristik individu yang terdiri dari pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang konsisten.
Dalam teori-teori kepribadian, kepribadian terdiri dari antara lain trait dan tipe (type). Trait sendiri dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Trait menggambarkan konsistensi respon individu dalam situasi yang berbeda-beda. Sedangkan tipe adalah pengelompokan bermacam-macam trait. Dibandingkan dengan konsep trait, tipe memiliki tingkat regularity dan generality yang lebih besar daripada trait.
Trait merupakan disposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti yang tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi. Teori trait merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu:
  • Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain, sehingga:
    • Trait relatif stabil dari waktu ke waktu
    • Trait konsisten dari situasi ke situasi
  • Trait merupakan kecenderungan dasar yang menetap selama kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena:
    • ada proses adaptif
    • adanya perbedaan kekuatan, dan
    • kombinasi dari trait yang ada
Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).
Teori trait dimunculkan pertama kalinya oleh Gordon W. Allport. Selain Allport, terdapat dua orang ahli lain yang mengembangkan teori ini. Mereka adalah Raymond B. Cattell dan Hans J. Eysenck.
Allport mengenalkan istilah central trait, yaitu kumpulan kata-kata yang biasanya digunakan oleh orang untuk mendeskripsikan individu. Central trait dipercaya sebagai jendela menuju kepribadian seseorang. Menurut Allport, unit dasar dari kepribadian adalah trait yang keberadaannya bersumber pada sistem saraf. Allport percaya bahwa trait menyatukan dan mengintegrasikan perilaku seseorang dengan mengakibatkan seseorang melakukan pendekatan yang serupa (baik tujuan ataupun rencananya) terhadap situasi-situasi yang berbeda. Walaupun demikian, dua orang yang memiliki trait yang sama tidak selalu menampilkan tindakan yang sama. Mereka dapat mengekspresikan trait mereka dengan cara yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat masing-masing individu menjadi pribadi yang unik. Oleh sebab itu Allport percaya bahwa individu hanya dapat dipahami secara parsial jika menggunakan tes-tes yang menggunakan norma kelompok.
Sama seperti Allport, Cattell juga percaya bahwa kata-kata yang digunakan seseorang untuk menggambarkan dirinya dan orang lain adalah petunjuk penting kepada struktur kepribadian. Perbedaan mendasar antara Allport dan Cattell adalah bahwa Cattell percaya kepribadian dapat digeneralisir. Yang harus dilakukan adalah dengan mencari trait dasar atau utama dari ribuan trait yang ada. Menurut Allport, faktor genetik dan lingkungan sama-sama berpengaruh dalam menentukan perilaku manusia. Bukan hanya faktor keturunan sendiri atau faktor lingkungan sendiri yang menentukan bagaimana kepribadian terbentuk, melainkan melalui pengaruh resiprokal faktor keturunan dan lingkungan yang memunculkan karakteristik kepribadian.
Sehubungan dengan adanya peran genetik dalam pembentukan kepribadian, terdapat 4 pemahaman penting yang perlu diperhatikan:
1. Meskipun faktor genetik mempunyai peran penting terhadap perkembangan kepribadian, faktor non-genetik tetap mempunyai peranan bagi variasi kepribadian
2. Meskipun faktor genetik merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi lingkungan, faktor non-genetik adalah faktor yang paling bertanggungjawab
akan perbedaan lingkungan pada orang-orang
3. Pengalaman-pengalaman dalam keluarga adalah hal yang penting meskipun lingkungan keluarga berbeda bagi setiap anak sehubungan dengan jenis
kelamin anak, urutan kelahiran, atau kejadian unik dalam kehidupan keluarga pada tiap anak
4. Meski terdapat kontribusi genetik yang kuat terhadap trait kepribadian, tidak berarti bahwa trait itu tetap atau tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan.

Minggu, 15 Januari 2012

Sepenggal kisah si anak penuntut ilmu yang di kelilingi oleh para pelaku maksiat

Aku adalah seorang mahasiswa yang jauh dari orang tua karena keinginan saya dan orang tua agar saya bisa menuntut ilmu di kota daeng atau lebih dikenal sebagai kota makassar. Saya adalah mahasiswa yang tinggal di sinjai tepatnya di sinjai borong. Mungkin anda tidak kenal dngan daerah ini, makanya dengan ini anda bisa kenal dengan daerah tempat tinggal saya di mana saya di lahirkan, dimana saya di besarkan oleh kedua orang tua saya. Walaupun saya sekarang adalah anak yang sudah yatim. Ibunda tercinta saya telah berpulang ke pangkuan illahi di tahun 2009 karena sebuah penyakit yang aneh buat saya dan tidak rasional karena ibunda saya telah berobat kemana saja tetapi allah berkehendak lain. Ibunda saya telah meninggalkan saya lebih dahulu. Tetapi itu tidak akan menurunkan semangat saya. Karena beliau selalu berpesan kepada saya bahwa jangan selalau menurunkan semangat dan teruslah mengapai cita-citamu dan teruslah belajar dan belajar. Itulah pesan yang disampaikan kepada kami bertiga.
Ohhh iya saya sekarang masih dalam tahap perkulihan di salah satu perkuliahan yang cukup terkenal di kota makassar dan di kenal di luar karena katanya sebagai universitas pendemo. Saya sekarang sudah memasuki faase ke empat di Universitas tersebut .saya tercatat sebagai mahsiswa di Universitas tersebut pada tahun 2010 da tercatata sebagai mahasiswa di salah satu jurusan yaitu Psikologi Pendidikan Dan Bimbingan atau yang mungkin anda bisa kenal dengan Bimbingan dan Konseling. Saya masuk di jurusan inijujur bukan karena kehendak saya akan tetap karena keinginan tapi kehendak dari sepupu saya. Sebenarnya sebelum masuk di Universitas ini saya pernah ditawari masuk di salah satu perguruan tinggi swasta tapi keluarga menolak untuk masuk , kemudian saya jua pernah mencoba masuk untuk menjadi anggota TNI tpi itu pun belum berhasil. Mungkin allah menginginkan saya untuk menjadi guru, tapi entahlah semua itu biarlah allah yang menentukan.
Berkaitan dengan KOP yang tertera di atas maka saya akan menceritakan kehidupan saya selama menjadi anak kostan. Saya memounyai tempat tinggal tepatnya di Tidung dekat dengan kampus di mana saya menuntut ilmu. Di kostan saya (apartemen) pribadi saya , saya menjumpai banyak karakter yang saya temukan di situ ada yang suka minum- minuman keras, ada yang suka judi, ada yang suka main dengan cewek (ayam kampus) , suka tawuran, dan membuat gaduh pada saat malam dimana semua tetangga kami sedang tidur lelap dan itu selalu menjadi bahan pembicaraan kami di setiap keuarga yang ada di samping “apartemen” saya. Ini lah yang membuat saya ingin melukiskan semua pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan pada kesempatan ini dan mudah-mudahan akan menjadi pelajaran buat yang membaca blog pribadi saya. Dari kegilaan mereka yang mereka lakukan dengan cara linier (itu-itu terus) tanpa ada keinginan untu mengubah tingkah laku mereka yang saya anggap cukup konyol. Misalnya saja ketika mereka bermain judi, mereka rela menghambur-hamburkan uang mereka tanpa ada pikiran yang rasional pada hal mereka adlah mahasiswa. Mereka tidak menghiraukan dari mana uang itu. Bukan kah orang tua kalian rela membanting tulan demi mencari uang walaupun sepeser demi menghidupi kalian dan kalian hanya cukup meminta dan setela uang ada di tangan kalian , kalian dengan seenaknya menghambur-hamburkan uang tersebut di meja judi. Dasar mahasiswa yang tak punya akal. Kalian mengatakan bahwa diri kalian adalah mahasiswa tapi tingkah laku kalian cuman seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Selain masalah judi masih ada tindakan konyol kalian yang saya tidak suka yaitu bermain-main dengan cewe’ kaya’ kalian sudah menika saja padahal kan kalian masih dalam status pacaran kok udah bisa melakukan hubungan intim ini tidak cukup realisis di mata saya, say juga heran kok bisa yah perempuan dengan segitu gampangnya bisa di nikmati cuman dengan bermodalkan pacaran. Pernah muncul dalam benak saya semurah itukah harga diri cewe’? astagfirullah
Di akhir tulisan saya ini saya cuman meminta kepada allah agar menjaga saya dari semua perbuatan dosa-dosa yang tidak ada gunanya dan Cuma akan mengantar pelakunya menuju neraka allah swt.
Terimah kasih..................
Adimuliadi
Si penuntut ilmu

Rabu, 11 Januari 2012

konseling realitas

Konseling Realitas
oleh : Adimuliadi

Dasar Teori
Adanya konseling realitas tidak terlepas dari keberadaan William Glasser. Glasser adalah seorang tokoh yang mengemukakan tentang konseling realitas dalam bukunya reality counseling. Dalam pandangannya glasser mempunyai pandangan bahwa semua manusia memiliki kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan psikologis. Kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fisik manusia sedangkan kebutuhan psikologis yaitu :
1. kebutuhan dicintai dan mencintai
2. kebutuhan akan pengharagaan terhadap dirinya.
Kedua kebutuhan tersebut dapat digabungkan dan disebut sebagai Kebutuhan Identitas.
Kebutuhan identitas mempunyai dua arah, yang pertama adalh jika individu mengalami keberhasilan individu tersebut akan mencapai identitas kesuksesan yang disebut sebagai Success Identity. Sedangkan individu yang mengalami kegagalan disebut sebagai failure identity.
Pada dasarnya Failure identity ini dibangun oleh individu yang tidak mempunyai tanggung jawab karena menolak keberadaan realitas sosial, moral maupun dunia sekitarnya. Menurut Glasser orang yang mengalami gangguan mental adalah orang yang menolak keberadaan realitas tersebut. Dalam penolakan realitas tersebut ada dua cara yaitu:
1. mengubah dunia nyata dalam dunia pikirannya agar mereka merasa cocok.
2. mengabaikan realitas tersebut.
Sedangkan untuk mencapi success identity seorang individu harus memiliki dua kebutuhan dasar yaitu:
1. mengetahui bahwa setidaknya ada seseorang yang mencintainya dan setidaknya dia juga mencintai seoseorang.
2. memandang dirinya sebagai orang yang berguna selainsebagai stimulan dan berkeyakinan bahwa orang lain melihatnya sebagai orang yang berguna juga.
Kedua kebutuhan tersebut ada pada diri manusia bukan hanya salah satu diantaranya saja.
Kemudia Glasser bersama Zennin beranggapan bahwa tercapainya kebutuhan dasar dicintai dan dihargai akan menghasilkan pribadi yang bertanggung jawab. Konseling realitas memandang individu dari perilaku. Perilaku yang dimaksud berbaeda pada perilaku behavioristik. Perilaku tersebut adalah perilaku yang memiliki standar obyektif yang disebut sebagai reality.
Pokok pemikiran
• Pendapat tradisional yang beranggapan bahwa seseorang berperilaku tidak bertanggungjawab disebabkan oleh gangguan mental ditolak oleh Glasser. Justru ia berpendapat bahwa orang mengalami gangguan mental karena ia berperilaku tidak bertanggungjawab. Terapi realitas menekankan pada masalah moral antara benar dan salah yang harus diperhadapkan kepada konseli sebagai kenyataan atau realitas. Terapi realitas menekankan pertimbangan menyangkut nilai-nilai. Ia menekankan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya.
• Pengalaman masa lalu diabaikan karena terapi realitas mengarahkan pandangan penilaiannya pada bagaimana perilaku saat ini dapat memenuhi kebutuhan konseli. Dengan kata lain terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang. Meskipun tidak menganggap perasaan dan sikap tidak penting, tetapi terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapi realitas adalah proses pengajaran (teaching process)dan bukan proses penyembuhan (healing process). Itu sebabnya terapi realitas sering menggunakan pula pendekatan kognitif dengan maksud agar konseli dapat meneyesuaikan diri terhadap realitas yang dihadapinya.
• Faktor alam bawah sadar sebagaimana ditekankan pada psiko-analisis Freud tidak diperhatikan karena Glasser lebih mementingkan “apa” daripada “mengapa”-nya.
• Terapi realitas menolong individu untuk memahami, mendefinisikan, dan mengklarifikasi tujuan hidupnya.
• Terapi realitas menolak alasan tertentu atas perbuatan yang dilakukan. Misalnya, orang yang mencuri tidak boleh beralasan bahwa ia terpaksa atau kepepet, dsb.
• Terapi realitas transferensi yang dianut konsep tradisional sebab transferensi dipandang suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi.. Terapis bisa menjadi orang yang membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sekarang dengan membangun suatu hubungan yang personal dan tulus.
.
Perilaku Bermasalah
Dalam konseling realitas konselor tidak menganggap adanya perilaku bermasalah pada diri individu. Tetapi yang ada dalah identitas kegagalan atau identitas kesuksesan. Perilaku bermasalah sendiri dalam konseling realitas disebut sebagi failure identity atau identitas kegagalan. Adanya failure identity ditandai denganadanya :
1. keterasingan
2. penolakan diri dan irrasionalitas
3. perilaku kaku
4. tidak obyektif
5. lemah tidak bertanggung jawab
6. kurang percaya diri
7. menolak kenyataan

Prinsip Kerja
Prinsip kerja dari konseling realitas sendiri adalah berdasar atas asumsi sebagai berikut :
1. perilaku manusia didornag oleh adanya kebutuhan dasar manusia.
2. jika seorsng individu gagal, dia akan mengembangkan failure identity
3. pada dasarnya setiap individu memiliki kemampuan untuk mengubah kegagaln menjadi kesuksesan.
4. faktor tanggung jawab adalah sangat penting bagi manusia. Karena adanya sukses identity ditandai dengan tanggung jawab dari individu tersebut.
5. penilaian individu tentang dirinya juga sangat penting karena menentukan apakah dirinya termasuk pada failure identity atau pada success identity.

Tujuan konseling realitas.
Pada dasarnya tujuan dari konseling realitas adalah sama dengan tujuan dari kehidupan manusia yaitu membantu individu untuk mencapi succses identity. Telah dikatakan didepan bahwa untuk mencapai succes identity diperlukan suatu rasa tanggung jawab dari individu, untuk mencapinya individu harus mencapai kepuasan terhadap kebutuhan personal. Untuk memenuhi kepuasan terhadap kebutuhan tersebut perlu diperhatikan 3R yaitu reality (kenyataan), right (hal yang baik), responsible (tangung jawab).
Karakteristik Konselor Realitas
Dalam konseling realitas diperlukan konselor yang memiliki karakter sebagai berikut:
1. konselor harus mengutamakan keseluruhan individual yang bertanggung jawab, yang dapat memmnuhi kenbutuhannya.
2. konselor harus kuat dan yakin bahwa dia tidak pernah bijaksana. Dengan demikian konselor dapat menahan diri dari tekanan klien untuk membenarkan perilakunya dan menolak alasan dari perilaku klien yang irrasional.
3. konselor harus hangat, sensitif terhadap kemampuan untuk memahami orang lain.
4. konselor harus dapat bertukar pikiran demngan klien.
Selain itu konselor juga harus dapat meyakinkan klien bahwa kebahagiaan bukan pada proses konseling akan tetapi pada perilaku dan keputusan klien. Klien adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas dirinya.
PROSEDUR KONSELING
Beberapa prosedur yang harus diperhatikan oleh konselor realitas, prosedur konseling realitas ada delapan, yaitu:
1. Berfokus pada personal
Prosedur utama yaitu mengkomunikasikan perhatian konselor pada klien, Glasser beranggapan perlunya keterlibatan (involvement) yang maknanya sama dengan empati dalam pengertian yang dikemukakan Rogers, keterlibatab yang dicapai konselor dapat menjadi fungsi kebebasan, tanggung jawab dan otonomi pada klien.
2. Berfokus pada perilaku
Koseling realitas berfokus pada perilaku tidak pada perasaan dan sikap. Menurut Glasser karena perilaku dapat diubah dan dapat dengan mudah dikendalikan jika dibandingkan dengan perasaan atau sikap.
3. Berfokus pada saat ini
Konselor tidak perlu melakukan eksplorasi terhadap pengalaman-pengalaman yang irasional terhadap masa lalu konseli, hal ini sejalan dengan tujuan konseling menurut Glasser ada tiga tahap, yaitu membantu konseli, melihat perilakunya (yang terakhir) adalah yang tiodak realistic, menolak perilaku klien yang tidak bertanggung jawab, dan mengajarkan cara yang terbaik menemukan kebutuhannya dalam dunia riil.
4. Pertimbangan nilai
Dalam konseling relitas klien perlu menilai kualitas perilakunya sendiri apakah perilakunya itu bertanggung jawab, rasional, realistic dan benar atau justru sebaliknya, penilaian perilakunya oleh diri konseli akan membantu kesadaran tentang dirinya untuk melakukan hal-hal yang posutif.
5. Pentingnya perencanaan
Konseling realitas menganggap konseling harus mampu menyusun rencana-rencana yang realistic sehingga tingkah lainnya menjadi lebih baik, menjadi orang yang memiliki identitas keberhasilan. Dalam hal ini konselor bertugas membantu konseli untuk memperoleh pengalaman berhasil pada tingkat-tingkat yang sulit secara progresif.
6. Komitmen
Klien harus memiliki komitmen atau keterikatan untuk melaksanakan rencana itu. Komitmen ditunjukkan dengan kesediaan konseli sekaligus secara riil melaksanakan apa yang telah direncanakan. Dan konselor harus meyakinkan konseli bahwa kepuasan atau kebahagiaan sangat ditntukan oleh komitmen pelaksanaan rencana-rencana tersebut.
7. Tidak menerima dalih
Dalam hal ini ketika konseli melaporkan mengenai alasan-alasan kegagalan tersebut, sebaiknya konselor menolak menerima dalih atau alasan-alasan yang dikemukakan konseli. Justru pada saat itu konselor peril membuat rencana dan membuat komitmen baru untuk melaksanakan upaya lebuh lanjut. Dan konselor tidak perlu menanyakan mengapa kegagalan tersebutbisa terjadi, tetapi konselor sebaiknya menanyakan apa rencana lebih lanjut dan kapan mulai melaksanakannya.
8. Menhilangkan hukuman
Hukuman menurut Glasser tidak efektif dan justru memperburuk hubungan dalam konseling. Hukuman yang biasanya dialkukan dengan kata-kata mencela dan menyakitkan hati konseli harus dihilangkan, setidaknya dalam hubungan konseling. Glasser menganjurkan agar klien tidak dihukum dalam bentuk apapun dan dibiarkan belajar mendapatkan konsekuensi secara wajar dari perilakunya sendiri.
Peranan konselor
Dalam proses konseling realitas konselor juga dapat memberikan dorongan,yaitu dengan jalan memuji konseli ketika melakukan tindakan yang bertanggung jawab dan menunjukkan penolakannya jika klien tidak melakukannya.
Glasser berkeyakinan bahwa pendidikan dapat menjadi kunci yang efektif bagi hubungan kemanusiaan, dan dalam bukunya School without failure, dia menyusun sebuah program untuk membatasi kesalahan dan kegagalan, dengan memasukkannya ke dalam kurikulum yang relevan, mengganti system disiplin hukuman, menciptakan pengalaman belajar, sehingga siswa dapat memaksimalkan pengalamannya menjadi berhasil, membuat motivasi dan tantangan, membantu siswa mengembangkan perilaku yang bertanggung jawab, dan menetapkan cara melibatkan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan sekolah yang relevan.
Jadi pendekatan reality therapy adalah aktif, membimbing, mendidik dan terapi yang berorientasi pada cognitive behavioral. Metode kontrak selalu digunakan dan jika kontrak terpenuhi maka proses konseling dapat diakhiri. Pendekatannya dapat menggunakan “mendorong” atau “menantang”. Jadi pertanyaan “what”dan “how” yang digunakan, sedangkan “why” tidak digunakan. Hal ini sangat penting untuk membuat rencana terus sehingga klien dapat memperbaiki perilakunya.


Daftar Pustaka
Latipun, 2006, Psikologi Konseling, Malang, UMM Press
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0503/23/opini/1634844.htm
www.tiranus.net/2007/terapi_realitas.php
http://en.wikipedia.org/wiki/William_Glasser
Kamis, 2009 Januari 22
terapi realitas
A. Konsep Dasar
Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis, relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli, yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses, dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan.
Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun.

Terapi Realitas lebih menekankan masa kini, maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya, sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang.
Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. Menurutnya, bahwa tentang hakikat manusia adalah:

1.Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal, yang hadir di seluruh kehidupannya, sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya.

2.Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses.

3.Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri


B. Ciri-Ciri Terapi Realitas

1.Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu, tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat.

2.Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme.

3.Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah, diperbaiki, dianalisis dan ditafsirkan. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya, sebagai pengalaman yang berharga.

4.Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli .

5.Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . Tanggung jawab dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya.

6.Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan., tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata.

7.Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata.


C. Tujuan Terapi

1.Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata.

2.Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya.

3.Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

4.Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri.

5.Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.


D. Proses Konseling (Terapi)

Konselor berperan sebagai:

1.Motivator, yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya; dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri.

2.Penyalur tanggung jawab, sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli; (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri.

3.Moralist; yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya.

4.Guru; yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai
harapannya.
5.Pengikat janji (contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya.



Teknik-Teknik dalam Konseling

1.Menggunakan role playing dengan konseli

2.Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks

3.Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun, karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien.

4.Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya.

5.Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik.

6.Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya

7.Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas.

8.Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif



TERAPI REALITAS
TERAPI REALIATAS
Konsep-konsep Utama
Pandangan Tentang Manusia
Terapi realitas adalah suatu bentuk modifikasi tingkah laku, karena, dalam penerapan-penerapan institusionalnya, merupakan tipe pengondisian operan yang tidak ketat.
Menurut terapi realitas, akan sangat berguna apabila menganggap identitas dalam pengertian “identitas keberhasilan” lawan “identitas kegagalan”. Dalam pembentukan identitas, masing-masing dari kita mengembangkan keterlibatan-keterlibatan dengan orang laian dan dengan bayangan diri, yang dengannya kita merasa relative berhasil atau tidak berhasil. Orang laian memerankan permainan yang berarti dalam membantu kita menjelaskan dan memahami identitas kita sendiri. Cinta dan penerimaan berkaitan lansung dengan pembentukan identitas. Menurut Glaser, basis dari terapi realitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar Psikologisnya, yang mencakup “kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.
Pandangan tentang manusia mencakup perntaan bahwa suatu “kekuatan pertumbuhan” mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Sebagaimanan dinyatakan oleh Glaser dan Zunin suatu kekuatan kea rah kesehatan atau pertumbuhan. Pada dasarnya orang ingin puas hatidan menikmati suatu identitas keberhasilan, menunjukkan tingkah laku yang bertanggung jawab dan memiliki hubungan interpersonal yang penuh makna. Penderitaan pribadi hanya bisa diubah dengan perubahan identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahw, karena individu-individu bias mengubah cara hidup, perasaan dan tingakah lakunya, maka mereka pun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identiras bergantung pada perubahan tingkah laku.

Ciri-ciri Terapi Realitas
1. terapin realitas menolak konsep tentang penyakit mental
2. terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang alih-alih pada perasaan dan sikap-sikap
3. terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai


4. terapi realitas tidak menekankan transferensi
5. terapi realitas menekankan pada aspek kesadaran
6. terapi realirtas menghapus hukuman
7. terpi realitas menekankan pada tanggung jawab.

Prinsip-Prinsip Terapi Relitas
Berikut tinjauan ringkas atas prinsip-prinsip yang menyajikan kerangka bagi proses belajaryang terjadi sebagai hasil dari hubungan antara terapis dan klien:
1. terapi realitas berlandaskan hubungan atau keterlibatan pribadi antara terapis dan klien. Terapis, dengan kehangatan, pengertian, penerimaan, dan kepercayaannya atas kesanggupan klien untuk mengembangkan suatu identitas keberhasilan, harus mengkomunikasikan bahwa dia menaruh perhatian.
2. perencanaan adalah hal yang esensial dalam terapi realitas. Situasi terapiutik tidak terbatas pada diskusi-diskusi antara terapis dengan klien tetapi mereka harus membentuk rencana-rencana, kemudian dijalankan
3. komitmen adalah kunci utama terapi realitas, setelah membuat suatu perencanaan antara terapi dengan klien, terpis berusaha membantu untuk membuat komitmen-komitmen untuk melaksanakan rencana-rencana tersebut.
4. terpi realitas tidak menerima dalih, artinya, bagaimanapun hasil yang dicapai oleh klien, apkah berhasil atau gagal, terpis tidak menerima alas an-alasan dari klien.

Penerapan: Teknik-teknik dan Prosedur Terapeutik
Teknik-Teknik dan Prosedur Utama
Terapi realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Prosedur-prosedurnya difokuskan pada ketentuan-ketentuan dan potensi-potensi klien yang dihubungkan dengan tingkah lkunya sekarang dan usahanya untuk mencapai keberhasilan dalam hidup. Dalam membantu klien, untuk menciptakan identitas keberhasilan, terapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut:
1. terlibat dalam permainan dengan klien
2. menggunakan humor
3. mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun
4. membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan
5. bertindak sebagai model dan guru
6. memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi
7. menggunakan “terapi kejutan verbal” atau sarkasme yang layak untuk mengonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis
8. melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.

Penerapan pada Situasi-situasi Konseling
Terpi realitas cocok untuk digunakan dalam terapi individual, kelompok, dan konseling perkawinan. Dalam terpi kelompok biasanya, terapis menemui klien sekali dalam seminggu selama 45 menit. Pada permulaan terap, terapis bisa memberikan konsultasi kepada klien mengenai lamanya terapi.
Menurut Glaser dan Zunin, konseling perkawinan atau terapi penyatuan perkawinan sering dilakukan oleh terapis realitas. Mereka memandang tipe konseling ini sebagai season yang terbatas, biasanya terdiri atas lima sampai lima belas kali pertemuan. Pada akhir terpi diadakan evaluasi, untuk menentukan apakah ada kemajuan dan apakah seson selanjutnya bisa dilanjutkan.